Showing posts with label Fawaid. Show all posts
Showing posts with label Fawaid. Show all posts

Monday, July 7, 2014

Realisasi Puasa

Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah berkata,




"Wajib bagi muslim untuk menjaga puasanya. Jika perut dan kemaluannya puasa, puasa juga pendengaran, penglihatan, indera, dan anggota badannya dari setiap hal yang Allah haramkan. Yang demikian itu dengan menjauhi tempat-tempat fitnah, tempat-tempat yang ada nyanyian dan alat musik serta tidak membukanya lewat radio dan yang lainnya.


Menjauhi dari pandangan haram, maka jangan pergi ke pasar-pasar yang padanya ada para wanita. Menjauhi dari pandangan ke layar televisi, sinema, dan lainnya yang menampakkan kesenangan-kesenangan dan fitnah-fitnah. Ditampakkan pada perantara-perantara ini sandiwara, sinetron, dongeng, dan humor. Maka sebagian manusia tersibukkan dengannya dalam keadaan dia sedang berpuasa, dia melihat padanya dan mendengar darinya. Dimanakah (realisasi) puasa?"



Sumber : WhatsApp Thulab Fiyus

Antara Al Qur`An dan Ketakwaan

Berkata Asy Syaikh Al ‘Utsaimin – rahimahullah – dalam pelajaran tafsir pada ayat: «هُدًى لِلْمُتَّقِيْن»
“Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa” [Al Baqarah: 2]:


ومن فوائد هذه الآية أن القرآن هدى للمتقين.
ويترتب على هذه الفائدة , أنك إذا رأيت الله قد منّ عليك بفهم كتابه والعمل به فاعلم أنك من المتقين لأنه قال » هدى للمتقين«, فإذا رأيت من نفسك أن الله منَّ عليك بالعلم والعمل بكتابه فأبشر فإنك من المتّقين .
ويتفرع على هذا فائدة أخرى , إذا رأيت الغفلة وعدم الانتفاع بالقرآن فاحذر فإن هذا يدل على نقص تقواك . لأنه لو كانت تقواك كاملة لكان هذا القرآن هدى لك .
ويتفرع على هذا أيضًا , الحث على التقوى وأنه سبب الاهتداء بالقرآن وأنك كلما اتقيت الله ازددت انتفاعًا بالقرآن واهتداءً به .


“ Termasuk faidah dari ayat ini: bahwa Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.


Kemudian dapat diambil dari faidah ini…




  • Apabila engkau melihat dari dirimu bahwa Allah telah menganugerahkan kepadamu ilmu dan amal, maka bergembiralah karena engkau termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.


Kemudian bercabang dari faidah ini…




  • Apabila engkau melihat kelalaian (dari dirimu) dan tidak dapat mengambil manfaat dari Al Qur`an, maka berhati-hatilah. Karena ini menunjukkan kurangnya ketakwaanmu. Seandainya saja ketakwaanmu sempurna niscaya Al Qur`an akan menjadi petunjuk bagimu.


Bercabang dari faidah ini pula…




  • Adanya anjuran untuk bertakwa. Dan ketakwaan tersebut merupakan sebab seseorang mendapatkan petunjuk dengan Al Qur`an. Semakin engkau bertakwa kepada Allah, semakin pula engkau bisa mengambil manfaat dan petunjuk dari Al Qur`an.”


Faedah dari al-Akh Abu Ahmad Abdul Mannan --hafidhahullah--,


salah seorang thalib di Daarul Hadits, Fuyusy | WhatsApp Thullab Fuyusy

Permisalan Salaf Menunjukkan Semangat Mereka Dalam Penjagaan Al Quran di Bulan Ramadhan

Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkholi hafidzahullah memetikkan faedah berikut ini;


"Sungguh dahulu para Sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam sangat mengagumkan dalam qiraah dan bacaan mereka dalam shalat--semoga Allah meridhai para Sahabat dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan sampai Hari Akhir--. Dahulu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasalam membaca dan menghidupkan malamnya dengan qiraah sebagaimana Robbnya tabaraka wa ta'ala telah memerintahkannya. Maka selayaknya bagi seorang muslim untuk menjaga Al Quran ini.


Jika dia tidak menjaga Al Quran di bulan yang dia diturunkan padanya, kapan lagi dia akan menjaganya? Nabi shalallahu 'alaihi wasalam bersabda,


من قرأ حرفا من كتاب الله، فله به حسنة والحسنة بعشر أمثالها، لم أقول ألم حرف ولكن ألف حرف ولام حرف وميم حرف


"Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, baginya satu kebaikan dan sepuluh kebaikan yang semisal dengannya. Saya tidak mengatakan ألم satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf."

Jangan Menyia-nyiakan Waktu

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:


"إِضَاعَةُ الْوَقْتِ أَشَدُّ مِنَ الْمَوْتِ، لِأَنَّ إِضَاعَةَ الْوَقْتِ تَقْطَعُكَ عَنِ اللهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ، وَالْمَوْتُ يَقْطَعُكَ عَنِ الدُّنْيَا وَأَهْلِهَا." الفوائد ص: ٣١


“Menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat daripada kematian, karena menyia-nyiakan waktu, memutus Anda dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian memutus Anda dari dunia dan penduduknya.”


[Al-Fawaid, hlm. 31]

Riset : Manakah Yang Lebih Utama: Membaca Al Qur`An Dengan Tadabbur (Menghayati) atau Memperbanyak Mengkhatamkan Al Qur`an Tanpa Adanya Tadabbur?

Pada bulan Ramadhan dapat kita saksikan umat Islam bersemangat dalam memperbanyak amalan-amalan shalih dengan semangat yang tidak kita jumpai semisalnya pada bulan-bulan selain Ramadhan. Di antara amalan yang paling banyak dikerjakan padanya adalah membaca Al Qur`an.


Namun tentunya patut untuk diingat bahwa semangat tanpa didasari ilmu tidaklah membuahkan hasil yang optimal, bahkan bisa jadi tidak membuahkan apa-apa. Orang yang memiliki ilmu lah yang akan meraih hasil yang banyak dari kesempatan yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal pada bulan Ramadhan ini dan pada bulan-bulan selainnya.


Maka berikut kami bawakan terjemahan dari beberapa perkataan ulama tentang perbandingan antara membaca Al Qur`an dengan tartil dan penghayatan, dengan bacaan Al Qur`an dengan cepat untuk memperbanyak mengkhatamkan Al Qur`an. Agar kita bisa memilih mana di antara keduanya yang lebih baik untuk kita amalkan.


4Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmy – rahimahullah – pernah ditanya, “Manakah yang lebih afdhal, seseorang membaca Al Qur`an dan mengkhatamkannya beberapa kali, ataukah membacanya dengan perlahan beserta tafsirnya satu kali atau dua kali (khatam) di bulan Ramadhan?”
Maka beliau – rahimahullah – menjawab, “Demi Allah, apabila dia hanya mengkhatamkannya satu kali beserta tafsirnya dan memahami-(makna)nya, lebih baik daripada membacanya dengan cepat seperti itu.
Abdullah bin Mas’ud ketika seseorang berkata padanya, “Aku telah membaca surat-surat mufasshal semalam.” Al Mufasshal panjangnya empat juz. Dari surat Qaf dan surat-surat yang setelahnya. Maka Abdullah berkata pada orang itu, “Kamu membacanya dengan cepat seperti membaca syair??!” (yaitu beliau mengingkarinya – pen).




Maka seharusnya seseorang membaca Al Qur`an dengan penuh perhatian. Sedangkan apabila dia telah mengerti (maknanya), misalnya sebelum ini dia pernah membaca tafsir dan jelas maknanya baginya, maka yang lebih baik untuknya dia membaca dengan perlahan dan penuh perhatian sambil mengingat kembali tafsir yang pernah dibacanya.”


Metode yang Tepat dalam Menuntut Ilmu

Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata:



"فَالَّذِي يَتَعَيَّنُ عَلَى الْمُسْلِمِ الِاعْتِنَاءُ بِهِ وَالِاهْتِمَامُ أَنْ يَبْحَثَ عَمَّا جَاءَ عَنِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَجْتَهِدُ فِي فَهْمِ ذَلِكَ، وَالْوُقُوفِ عَلَى مَعَانِيهِ، ثُمَّ يَشْتَغِلُ بِالتَّصْدِيقِ بِذَلِكَ إِنْ كَانَ مِنَ الْأُمُورِ الْعِلْمِيَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنَ الْأُمُورِ الْعَمَلِيَّةِ، بَذَلَ وُسْعَهُ فِي الِاجْتِهَادِ فِي فِعْلِ مَا يَسْتَطِيعُهُ مِنَ الْأَوَامِرِ، وَاجْتِنَابِ مَا يُنْهَى عَنْهُ، وَتَكُونُ هِمَّتُهُ مَصْرُوفَةً بِالْكُلِّيَّةِ إِلَى ذَلِكَ؛ لَا إِلَى غَيْرِهِ. وَهَكَذَا كَانَ حَالُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ النَّافِعِ مِنَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ."

(جامع العلوم والحكم ١/ ٢٤٤)


---------------------------------------


"Maka yang harus selalu diperhatikan dan dicamkan oleh setiap muslim adalah;




  • Mencari apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam (ilmu yang bermanfaat),

  • Lantas bersungguh-sungguh dalam memahaminya dan mendalami kandungan maknanya

  • Berikutnya berupaya memantapkan keyakinan tentangnya jika termasuk dalam koridor permasalahan yang bersifat keilmuan, dan jika termasuk dalam koridor permasalahan yang bersifat amalan maka dengan berupaya semaksimal mungkin menjalankan segala yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

  • Hendaklah segenap perhatiannya selalu tertuju kepada yang demikian itu, tidak kepada selainnya.

  • Demikianlah kondisi para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan para tabi’in yang mengikuti jejak mereka dengan sebaik-baiknya dalam hal mencari ilmu yang bermanfaat (al-ilmu an-nafi’) yang bersumber dari al-Kitab dan as-Sunnah."


(Jami’ al-Ulum wal Hikam 1/244)