Pada bulan Ramadhan dapat kita saksikan umat Islam bersemangat dalam memperbanyak amalan-amalan shalih dengan semangat yang tidak kita jumpai semisalnya pada bulan-bulan selain Ramadhan. Di antara amalan yang paling banyak dikerjakan padanya adalah membaca Al Qur`an.
Namun tentunya patut untuk diingat bahwa semangat tanpa didasari ilmu tidaklah membuahkan hasil yang optimal, bahkan bisa jadi tidak membuahkan apa-apa. Orang yang memiliki ilmu lah yang akan meraih hasil yang banyak dari kesempatan yang diberikan Allah kepadanya untuk beramal pada bulan Ramadhan ini dan pada bulan-bulan selainnya.
Maka berikut kami bawakan terjemahan dari beberapa perkataan ulama tentang perbandingan antara membaca Al Qur`an dengan tartil dan penghayatan, dengan bacaan Al Qur`an dengan cepat untuk memperbanyak mengkhatamkan Al Qur`an. Agar kita bisa memilih mana di antara keduanya yang lebih baik untuk kita amalkan.
4Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmy – rahimahullah – pernah ditanya, “Manakah yang lebih afdhal, seseorang membaca Al Qur`an dan mengkhatamkannya beberapa kali, ataukah membacanya dengan perlahan beserta tafsirnya satu kali atau dua kali (khatam) di bulan Ramadhan?”
Maka beliau – rahimahullah – menjawab, “Demi Allah, apabila dia hanya mengkhatamkannya satu kali beserta tafsirnya dan memahami-(makna)nya, lebih baik daripada membacanya dengan cepat seperti itu.
Abdullah bin Mas’ud ketika seseorang berkata padanya, “Aku telah membaca surat-surat mufasshal semalam.” Al Mufasshal panjangnya empat juz. Dari surat Qaf dan surat-surat yang setelahnya. Maka Abdullah berkata pada orang itu, “Kamu membacanya dengan cepat seperti membaca syair??!” (yaitu beliau mengingkarinya – pen).
Maka seharusnya seseorang membaca Al Qur`an dengan penuh perhatian. Sedangkan apabila dia telah mengerti (maknanya), misalnya sebelum ini dia pernah membaca tafsir dan jelas maknanya baginya, maka yang lebih baik untuknya dia membaca dengan perlahan dan penuh perhatian sambil mengingat kembali tafsir yang pernah dibacanya.”