Saturday, September 6, 2014

Jeleknya Ahli Ahwa’ dan Ahli Bid’ah

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB 8 : Jeleknya Ahli Ahwa’ dan Ahli Bid’ah



1. Dari Abi Hurairah radliyallahu 'anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :




“Akan ada di akhir zaman nanti para dajjal dan pendusta, mereka mendatangimu dengan hadits-hadits yang belum pernah didengar oleh kamu dan bapak-bapak kamu maka hati-hatilah kamu dari mereka, mereka jangan sampai menyesatkan kamu dan menimbulkan fitnah terhadapmu.” (HR. Muslim dalam Muqaddimah 7)



2. Dari Khalid bin Sa’d ia berkata bahwa menjelang wafatnya Hudzaifah bin Al Yaman datang kepadanya Abu Mas’ud Al Anshary --radliyallahu anhuma-- lalu berkata :




“Hai Abu Abdillah, berpesanlah untuk kami.” Hudzaifah berkata : “Bukankah telah datang kepadamu perkara yang yaqin, ketahuilah sesungguhnya kesesatan itu benar-benar kesesatan kalau kamu anggap ma’ruf (baik) apa yang sebelumnya kamu ingkari dan mengingkari apa yang telah kamu ketahui, hati-hatilah kamu dari sikap berbeda-beda (berpecah-belah, pent.) dalam agama Allah karena sesungguhnya agama Allah ini hanya satu.” (Al Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/33 dan Al Lalikai 1/90 nomor 120)



3. Dari Abi Qilabah dari Zaid bin Umairah ia berkata, Mu’adz bin Jabbal berkata :




“Hai manusia, sesungguhnya akan terjadi fitnah yang pada waktu itu harta benda berlimpah, Al Quran terbuka (tersebar) hingga mudah dibaca oleh seorang Mukmin, munafiq, pria dan wanita, anak-anak kecil maupun orang dewasa sampai-sampai seseorang berkata :


‘Kita telah membaca Al Quran tapi tidak ada yang mau mengikuti, tidakkah sebaiknya kita bacakan terang-terangan kepada mereka?’


Maka mereka membacanya terang-terangan dan tetap tidak ada satupun yang mengikutinya maka ia berkata :


‘Saya telah membacanya terang-terangan tidak ada juga yang mengikutiku.’


Lalu ia membangun tempat shalat di rumahnya lalu mengucapkan perkataan bid’ah yang bukan dari Kitab Allah bahkan tidak juga dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam maka hati-hatilah kamu dari bid’ahnya karena sesungguhnya bid’ah itu sesat.”



(Al Lalikai 1/89 nomor 117, Al Hujjah 1/303, Ibnu Wadldlah 33, dan Abu Daud 4611)

Sebab-Sebab Hilangnya Agama

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 









BAB 7 : Sebab-Sebab Hilangnya Agama

1. Abdullah bin Ad Dailamy berkata :




“Sesungguhnya sebab pertama hilangnya agama ini adalah meninggalkan As Sunnah. Agama ini akan hilang sunnah demi sunnah sebagaimana lepasnya tali seutas demi seutas.” (Al Lalikai 1/93 nomor 127, Ad Darimy 1/58 nomor 97, dan Ibnu Wadldlah dalam Al Bida’ 73)



2. Ia juga berkata, saya mendengar Amru berkata :




“Tidaklah dilakukan suatu bid’ah melainkan akan bertambah cepat berkembangnya dan tidaklah ditinggalkan As Sunnah kecuali bertambah cepat hilangnya.” (Al Lalikai 1/93 nomor 128 dan Ibnu Wadldlah 73)



3. Dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu 'anhu ia berkata :




“Ketahuilah hendaknya jangan satupun dari kalian bertaqlid kepada siapapun dalam perkara agamamu sehingga (bila) ia beriman ikut beriman bila ia kafir ikut pula menjadi kafir. Maka jika kamu tetap ingin berteladan maka ambillah contoh dari yang telah mati sebab yang masih hidup tidak aman dari fitnah.” (Al Lalikai 1/93 nomor 130 dan Al Haitsamy dalam Al Majma’ 1/180)



4. Al Auza’i menyebutkan dari Hassan bin Athiyyah, ia berkata :




“Tidaklah suatu kaum berbuat satu bid’ah dalam Dien mereka melainkan Allah cabut dari mereka satu Sunnah yang semisalnya dan tidak akan kembali kepada mereka sampai hari kiamat.” (Ad Darimy 1/58 nomor 98)



5. Dari Yunus bin Zaid dari Az Zuhri ia berkata :




“Ulama kami yang terdahulu selalu mengingatkan bahwa berpegang teguh dengan As Sunnah itu adalah keselamatan dan ilmu akan tercabut dengan segera maka tegaknya ilmu adalah kekokohan agama dan dunia sedang dengan hilangnya ilmu hilang pula semuanya.” (Ad Darimy 1/58 nomor 16)



-----------------------------------------------

Alih bahasa: Al Ustadz Idral Harits

Tanda-Tanda Ahli Bid’ah Dan Ahli Ahwa’

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB 6 : Tanda-Tanda Ahli Bid’ah Dan Ahli Ahwa’



1. Ayyub As Sikhtiyani berkata :




“Saya tidak mengetahui ada seseorang dari ahli ahwa’ yang berdebat kecuali dengan perkara (ayat) mutasyabihat.” (Al Ibanah 2/501, 605, 609)



2. Imam Al Barbahary berkata :




“Jika kamu lihat seseorang mencela salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam maka ketahuilah bahwa sesungguhya dia telah mengucapkan kata-kata yang buruk dan termasuk ahli ahwa’.” (Halaman 115 nomor 133)



3. Ia juga berkata :




“Jika kamu mendengar seseorang mencerca atsar (hadits-hadits), menolaknya, dan menginginkan selain itu maka curigailah keislamannya dan jangan kamu ragu bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu dan mubtadi’.” (Ibid 115-116 nomor 134)



4. Kata beliau juga :




“Jika kamu lihat seseorang mendoakan kejelekan terhadap penguasa maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu.” (Ibid 116 nomor 136)



5. Abu Hatim berkata :




“Salah satu tanda ahli bid’ah adalah adanya cercaan mereka terhadap Ahli Atsar.” (Al Lalikai 1/179)



6. Abu Abdillah Jamal berkata :




“Jika kamu lihat seseorang mencerca ulama As Sunnah dan manhaj Salafus Shalih di negeri ini dan lainnya maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa.”



7. Ibnul Qaththan berkata :




“Tidak ada di dunia ini seorang mubtadi’ melainkan sangat membenci Ahli Hadits.” (Aqidah Salaf Ash Shabuni 102 nomor 163)


Tanda-Tanda Ahlus Sunnah

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB 5 : Tanda-Tanda Ahlus Sunnah



1. Imam Al Barbahary berkata :




“Jika kamu lihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudlair radliyallahu 'anhum maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah --Insya Allah-- dan jika kamu lihat seseorang mencintai Ayyub, Ibnu ‘Aun, Yunus bin ‘Ubaid, ‘Abdullah bin Idris Al Audi, Asy Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid bin Zurai, Mu’adz bin Mu’adz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, Al Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah maka ketahuilah bahwa ia pengikut sunnah begitu pula jika ada seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, Al Hajjaj bin Al Minhal, Ahmad bin Nashr serta menyebut kebaikan mereka dan berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah ia adalah seorang Sunni.” (Syarhus Sunnah 119-121)



Saya (Jamal bin Farihan) mengatakan, dan jika kamu melihat pada masa kini ada seseorang yang mencintai para ulama di negeri ini (Saudi) dan negeri lainnya yang berpegang teguh dengan As Sunnah dan manhaj Salafus Shalih serta berpendapat dengan pendapat mereka maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang Sunniy.


2. Kata beliau (ibid 107) :




“Dan siapa yang mengetahui apa yang dibuang dan ditinggalkan ahli bid’ah dari Sunnah ini dan ia justru berpegang teguh dengannya maka ia adalah pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ia berhak untuk diikuti (diteladani), dibantu, dan dijaga bahkan dia termasuk yang dipesankan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.



3. Dan kata beliau (ibid 116) :




“Dan jika kamu lihat seseorang mendoakan kebaikan untuk penguasa maka ketahuilah bahwa ia adalah pengikut Sunnah --Insya Allah--.”



Saya katakan ringkasnya : “Jika kamu lihat seseorang mencintai Ahli Sunnah di mana pun berada dan benci kepada ahli bid’ah dan ahli ahwa’ di manapun mereka menetap dan berpindah maka ketahuilah ia adalah Ahlus Sunnah.”

Bersabar Atas Kejahatan Penguasa

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 









BAB 4 : Bersabar Atas Kejahatan Penguasa

1. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :




“Barangsiapa yang melihat pada amirnya terdapat satu hal yang dia benci hendaknya ia (tetap) bersabar.” (Hadits dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1101)



2. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :




“Adapun sesudah itu, sesungguhnya kamu akan melihat sikap atsarah (egois dan suka melebihkan orang lain selain kamu) maka bersabarlah sampai kamu berjumpa denganku.” (Ibid 1102)



-------------------------------------------------------------------------


Alih bahasa: Al Ustadz Idral Harits

Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa serta Tidak Memberontak Kepadanya [2]

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB 3 : Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa Serta Tidak Memberontak Kepadanya



Bagian Kedua


35. Beliau Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :




“Lima perkara, barangsiapa yang mengamalkan salah satunya ia mendapat jaminan dari Allah Azza wa Jalla, yaitu (antara lain) barangsiapa yang masuk kepada imam (pemimpinnya) untuk memuliakan dan menghormatinya.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1021)



36. Dari Ubadah bin Ash Shamit radliyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam (beliau) bersabda :




“Dengar dan taatilah mereka baik --dalam-- kesulitan atau kemudahan, gembira dan tidak suka, dan (meskipun) mereka bersikap egois (sewenang-wenang) terhadapmu, walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu.” (Ibid, dishahihkan Al Albani 1026)



37. Dari Rabi’i bin Harrasy ia berkata, saya mendatangi Hudzaifah radliyallahu 'anhu di Madain pada malam hari ketika banyak orang yang mendatangi Utsman bin Affan radliyallahu 'anhu maka ia berkata :




“Hai Rabi’i! Apa yang dilakukan kaummu?” Saya menjawab : “Tentang kejadian mana yang Anda tanyakan?” Ia berkata : “Tentang siapa di antara mereka yang keluar (unjuk rasa/memberontak) kepada orang itu (Utsman)?” Maka saya sebutkan nama-nama beberapa orang di antara mereka. Lalu kata Hudzaifah : “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :


Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jamaah dan merendahkan pemerintah maka ia akan menemui Allah Azza wa Jalla dalam keadaan tidak mempunyai muka lagi --dalam lafaz Adz Dzahabi, tidak mempunyai hujjah--.” (HR. Ahmad 5/387, Al Hakim menshahihkannya, dan disetujui Adz Dzahabi 1/119)


Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa Serta Tidak Memberontak Kepadanya

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB 3 : Perintah Mentaati Dan Memuliakan Penguasa Serta Tidak Memberontak Kepadanya



Bagian Pertama


26. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :




“Meskipun kamu diperintah oleh budak Habsyi yang (jelek) terpotong hidungnya tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya selama ia memimpinmu dengan Kitab Allah.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1062)



27. Beliau Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :




“Barangsiapa yang mentaatiku berarti ia mentaati Allah dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka ia bermaksiat kepada Allah dan siapa yang taat kepada amirnya (pemimpin/penguasa) berarti ia mentaatiku dan siapa yang bermaksiat kepada amirnya (pemimpin/penguasa) maka ia berarti bermaksiat kepadaku dan amirnya adalah tameng.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1065- 1068)



(Menurut Imam Al Qurthuby yang dinukil oleh Imam As Suyuthi dalam Kitab Az Zahrur Riba, arti tameng di sini adalah ia (amir itu) diikuti pendapat dan pandangannya dalam beberapa peraturan dalam menghadapi keadaan yang mengkhawatirkan, pent.)


28. Dari Ady bin Hatim ia berkata, kami berkata :




“Ya Rasulullah, kami tidak bertanya tentang ketaatan kepada orang yang bertaqwa tapi (bagaimana) terhadap orang yang berbuat begini dan begitu -- ia menyebut berbagai kejelekan--.” Beliau berkata : “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan tetaplah kamu mendengar dan mentaatinya.” (Hadits shahih dalam As Sunnah Ibnu Abi Ashim 1069)