Saturday, September 6, 2014

Perintah Komitmen Dengan Jamaah Muslimin dan Imam Mereka serta Peringatan Bahayanya Perpecahan

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB 2 : Perintah Komitmen Dengan Jamaah Muslimin dan Imam Mereka Serta Peringatan Bahayanya Perpecahan



17. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :




“Barangsiapa yang memisahkan diri dari Al Jamaah sejengkal saja maka ia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya.” (As Sunnah Ibnu Abi Ashim dan dishahihkan Syaikh Al Albani 892 dan 1053)



18. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :




“Barangsiapa yang mati tanpa mempunyai imam maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah.” (As Sunnah Ibnu Abi Ashim dihasankan Syaikh Al Albani 1057)



19. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :




“Tetaplah kamu bersama Al Jamaah dan jauhilah perpecahan, sesungguhnya syaithan selalu bersama orang yang sendirian dan ia lebih jauh dari yang berdua dan siapa yang ingin tinggal di tengah-tengah kebun surga maka hendaknya tetap berpegang dengan Al Jamaah.” (Shahih As Sunnah Ibnu Abi Ashim 88)



20. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, dan Menjauhi Bid’ah

KILAUAN MUTIARA HIKMAH DARI NASIHAT SALAFUL UMMAH 






BAB I : Berpegang Dengan Al Quran Dan As Sunnah, Mengikuti Atsar Salafus Shalih, Dan Menjauhi Bid’ah



1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (103)}


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. Dan berpeganglah kamu semua dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah. Dan ingatlah nikmat Allah terhadapmu ketika kamu saling bermusuhan maka Dia satukan hati kamu lalu kamu menjadi bersaudara dengan nikmat-Nya dan ingatlah ketika kamu berada di bibir jurang neraka lalu Dia. selamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat-Nya agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Ali Imran : 102-103]


2. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (153)


“Dan sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan jangan kamu ikuti jalan-jalan (lainnya) sebab jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Allah berwasiat kepada kamu mudah-mudahan kamu bertaqwa.” (QS. Al An’am : 153)


3. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda :


«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».


“Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin yang terbimbing, gigitlah dengan gerahammu dan hati-hatilah kamu terhadap perkara yang baru karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzy, dishahihkan Syaikh Al Albani dan Syaikh Muqbil)


Friday, September 5, 2014

Hukum Membaca Al Qur'an Sambil Goyang Badan ke Kanan dan ke Kiri

HUKUM MEMBACA AL QUR'AN SAMBIL GOYANG BADAN KE KANAN DAN KE KIRI

Sebagian kaum muslimin apabila membaca Al Qur'an sambil goyang badan ke kanan dan ke kiri atau ke depan dan ke belakang. Hal ini saya pernah lihat pula pada sebagian anak-anak Tahfizhul Qur'an ketika membaca Al Qur'an sambil goyang-goyang badan. Apakah hukum amalan seperti ini?

Ketahuilah kaum muslimin!

Allah Ta'ala berfirman dalam Al Qur'an yang Mulya:

{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ}

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." [QS. Al Anfaal: 2]

Al Imam Al Qurthubi_rahimahullah berkata: "Allah Ta'ala mensifati orang-orang yang beriman dalam ayat ini dengan takut (kepada Allah) dan juga gemetar ketakutan disaat mengingat Allah. Hal ini mencerminkan betapa kuatnya iman mereka dan pengagungan mereka kepada Rabbnya, seolah-olah Allah Ta'ala berada dihadapan mereka."

Al Imam As Sa'di_rahimahullah berkata: "Hal itu dari sisi bahwa mereka (disaat membaca ayat-ayat Allah) memusatkan pendengarannya untuk Al Qur'an, mereka menghadirkan hati-hati mereka untuk menghayatinya, disaat itulah semakin bertambah keimanannya."

Hukum Tulisan Lafazh 'Allah' atau [حَمَاكَ اللهُ] Semoga Allah Menjagamu di Kendaraan, seperti Mobil, Kapal maupun Pesawat




HUKUM TULISAN LAFAZH 'ALLAH' ATAU [حَمَاكَ اللهُ] SEMOGA ALLAH MENJAGAMU DI KENDARAAN, SEPERTI MOBIL, KAPAL MAUPUN PESAWAT




Kita sering melihat kendaraan mobil, kapal, atau pesawat pada bagian depan, belakang ataupun dalamnya tulisan kalimat [اللهُ], [مَا شَاءَ اللهُ], [حَمَاكَ اللهُ] semoga Allah menjagamu, atau juga ayat-ayat Al Qur'an. Apakah hal ini dibenarkan dalam syariat Islam?



Permasalahan ini telah dibahas oleh Al Lajnah Ad Daimah, berikut jawaban hukum permasalahan diatas:




"Tidak boleh bagi para desainer dan tukang dekor Kaligrafi dan juga selain mereka menulis lafazh [اللهُ] atau yang lainnya dari Nama-nama Allah yang Mulya dan sifat-sifatNya pada bagian belakang mobil atau selainnya. Tidak boleh bagi pemilik mobil berbuat hal tersebut, baik tujuannya untuk hiasan, mencari barakah, sebagai pengingat untuk selalu berdzikir, nasehat maupun yang semisalnya dari hal-hal yang sudah menjadi keyakinan sebagian orang-orang awam dan orang-orang yang jahil. Karena hal tersebut merupakan perbuatan bid'ah, hal tersebut yang tidak ada dasarnya sama sekali, baik dalam Al Qur'an maupun Sunnah NabiNya shallallahu 'alaihi wasallam serta kita tidaklah (diperintahkan) beribadah kepada Allah dengan cara seperti itu, karena padanya pula pelecehan terhadap Nama-nama Allah dan Sifat-sifatNya.



Hukum Tulisan Ayat Kursi Atau Lafazh Allah dan Muhammad Shallahllahu 'Alaihi Wasallam pada Liontin atau Pakaian




HUKUM TULISAN AYAT KURSI ATAU LAFAZH ALLAH DAN MUHAMMAD_SHALLAHLLAHU 'ALAIHI WASALLAM PADA LIONTIN ATAU PAKAIAN




Apakah hukum tulisan ayat kursi atau lafazh Allah dan Muhammad_shallallahu 'alaihi wasallam pada liontin emas atau yang lainnya?



Jawab:


Berkata Syaikh Abdullah bin Humaid_rahimahullah:




Ini merupakan suatu kesalahan, karena Al Qur'an tidaklah diturunkan untuk permainan, seperti diukir pada perhiasan emas atau bejana atau yang semisalnya. Al Qur'an hanyalah diturunkan oleh Allah Ta'ala sebagai penawar hati yang berpenyakit, petunjuk bagi manusia, cahaya, rahmat, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Al Qur'an tidaklah diturunkan untuk diukir dan digantung pada perhiasan atau pada pakaian, kemudian dibawa masuk ke kamar mandi ketika buang hajat. Maka hal ini sungguh tidaklah pantas.



Al Qur'an harus dimulyakan, diagungkan dan dijauhkan dari perbuatan jelek tadi. Allah Ta'ala menurunkan Al Qur'an adalah sebagai petunjuk, sebagaimana Allah firmankan:


{وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا}


"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian." [QS. Al Isra':82]

Hukum Menggantung Ayat-Ayat Al Qur'an Di Dinding

HUKUM MENGANTUNG AYAT-AYAT AL QUR'AN DI DINDING

Suatu ketika saya bertamu di salah satu rumah teman, saya mendapatkan didalam rumahnya begitu banyak hiasan-hiasan pada dinding rumahnya, ia menghiasi dinding rumahnya dengan ukiran kaligrafi ayat-ayat Al Qur'an. Ternyata hal ini sudah menjadi kebiasan sebagian besar kaum muslimin, bukan di. rumah teman saya saja, yang mana mereka senang mendekorasi rumahnya dengan kaligrafi.

Untuk apa mereka melakukan ini? Apakah tujuan di balik itu semua?

Mari kita simak dialog Asy Syaikh Al Faqih Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin_rahimahullah dengan salah seorang awam tentang seputar permasalahan tujuan menggantungkan atau menulis ayat-ayat Al Qur'an pada dinding rumah.

Penanya: "Wahai Syaikh yang kami mulyakan! Apakah hukum menggantungkan ayat-ayat Al Qu'an di dinding?"

Syaikh: "Untuk apa dia menggantungkan ayat-ayat Al Quran di dinding?"

Penanya: "Untuk hiasan".

Syaikh: Jika (dia lakukan hal itu) untuk hiasan maka sungguh dia telah menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan pelecehan. Bagaimana bisa, Al Qur'an yang Mulya dan Agung, yang mana Allah menurunkannya sebagai obat yang menyembuhkan hati-hati dan sebagai pemberi nasehat, kemudian dia jadikan sebagai hiasan?!

Hukum Berbicara Dengan Menggunakan Ayat-Ayat Al Qur'an (bagian 3)




HUKUM BERBICARA DENGAN MENGGUNAKAN AYAT-AYAT AL QUR'AN



Bagian Ketiga


Kisah tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya "Raudhatul 'Uqala" dan juga Abu Nu'aim dalam kitabnya "Al Hilyah" dan juga terdapat dalam kitab "Jawaahir Al Adab" dan kitab "Tahta Al Mijhar"


Selanjutnya mari kita lihat kalam ulama tentang keabsahan kisah ini:




  1. Syaikh Muqbil_rahimahullah menghukumi bahwa kisah ini tidaklah shahih.

  2. Syaikh 'Abdul 'Aziz As Sadhaan dalam kitabnya yang bagus "Tahta Al Mijhar" hal 122, beliau berkata: "Tidaklah diragukan lagi bahwa kisah ini adalah kisah yang bathil dari berbagai sisi:




    • Seluruh ulama yang menulis biografi Ibnul Mubarak, tidak satu pun dari mereka menyebutkan kisah Ibnul Mubarak bersama wanita itu.

    • Terlihat pada kisah tersebut hal yang dibuat-buat pada soal jawabnya.



Tidak adanya pengingkaran dari Ibnul Mubarak terhadap perbuatan wanita tersebut, padahal terkhushus di kalangan para ulama, mereka telah melarang untuk berbicara hanya dengan ayat-ayat Al Qur'an saja.


Keadaan sanadnya lemah sekali. Di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Zakaria Al Ghallaby. Berkata Al Imam Ad Daruquthny tentang perawi ini: "Dia tertuduh suka membuat hadits palsu." Berkata Ibnu Hibban tentangnya: "Dia meriwayatkan dari perawi yang tidak jelas keadaannya."